Rabu, 31 Juli 2013

Menginfakkan Harta yang Paling Dicintai


Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak kebun kurmanya. Kebun yang paling dicintainya adalah “Bairuha”, kebun kurma yang terletak di depan masjid yang selalu Nabi datangi dan masuki untuk minum airnya yang bagus. Tak berbilang harta yang datang dari penghasilan Bairuha tersebut untuk Abu Thalhah karena hasil penen kurmanya selalu banyak dengan kualitas bagus. Oleh karena itu, Abu Thalhah sangat mencintai kebun yang indah itu.
Namun, suatu hari, turun Surah Ali Imran ayat 92 yang artinya berbunyi, “Kalian tidak akan memperoleh kebaikan (yang sempurna) hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai”.
Mendengar ayat tersebut, Abu Thalhah bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah! sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah “Bairuha”, harta itu aku sedekahkan di jalan Allah, aku harapkan kebaikan dan pahalanya di sisi Allah.
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian bersabda, “Itu harta yang baik, aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Menurutku engkau berikan saja harta itu kepada kerabat-kerabatmu”.
Mendengar anjuran Rasulullah, Abu Thalhah berkata, “Aku akan melakukannya wahai Rasulullah”. Dia pun bergegas membagikan harta itu kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya” (Hadis Riwayat Bukhari)
Merujuk pada hadis tersebut, kita bisa melihat bahwa para sahabat lebih mengutamakan cintanya pada Allah dan Rasulnya. Mereka tidak segan-segan untuk menyedekahkan pokok hartanya hanya untuk bisa menjalankan perintah Allah. Dan itu hampir dilakukan oleh semua sahabat Nabi.
Apakah mereka tidak mencintai hartanya? Tidak seperti itu. Manusia diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memiliki kecenderungan ini. Allah berfirman, “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr: 20).
Dengan demikian, tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang yang rajin bersedekah adalah orang yang mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi batasnya.
Itulah sesungguhnya yang terjadi pada mereka. Kisah Abu Thalhah diatas menggambar kepada kita bagaimana kondisi hati Abu Thalhah saat ia menyedekahkan hartanya itu. Ia menyadari bahwa harta yang akan ia sedekahkan tersebut adalah harta yang sebetulnya sangat ia cintai. Akan tetapi, karena seruan Allah lebih ingin ia dengarkan dari pada seruan perasaan yang ada dalam hatinya, ia rela berbuat kemuliaan tersebut.
Jadi, pensedekah itu tetap mencintai hartanya. Namun, kerelaan hatinya lebih besar, imannya lebih kuat, cita-citanya lebih tinggi, kegembiraannya saat orang lain ikut berbahagia lebih menyenangkan baginya dan kedigdayaan agamanya lebih diharapkan olehnya. Ia tidak segan berkorban. Bukan hanya dengan hartanya, jiwanya pun selalu siap ia korbankan untuk meraih kemuliaan itu. (Shirah Shahabah)***

Selasa, 09 Juli 2013

Siapa yang Kaya dan Siapa yang Miskin?



Dalam suatu kesempatan, Ibrahim bin Adham tiba di suatu desa. Melihat kezuhudan Ibrahim bin Adham, orang kaya tersebut ingin memberikan sebagian hartanya untuk tokoh sufi tersebut. Ibrahim tidak lantas menerima pemberian itu tapi mengajukan syarat. “Jika Anda kaya, saya akan menerima uangmu, tapi jika Anda miskin, saya tidak akan mau mengambilnya,” kata Ibrahim.
“Saya adalah orang kaya di desa ini,” jawabnya.
“Kelau Anda kaya,  berapa banyak uang yang Anda miliki,” Ibrahim kembali bertanya.
“Saya punya dua ribu keping emas,” katanya.
“Apakah Anda ingin memiliki empat ribu keping emas?” tanya Ibrahim.
“Tentu saja mau,” jawab orang kaya itu.
“Apakah Anda ingin memiliki delapan ribu keping emas?” kembali Ibrahim bertanya.
“”Tentu saja mau,” jawab orang kaya itu.
 “Apakah engkau bahagia jika kekayaan yang lebih besar dari apa yang telah engkau miliki sekarang ini?” tanya Ibrahim
“Ya, kenapa tidak?” Jawabnya ringkas.
“Simpanlah uang ini kembali, bagiku engkau tidak lebih dari ketua para pengemis. Bahkan engkau bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat fakir dan peminta-minta.” kata Ibrahim
Kata-kata Ibrahim itu membuat orang kaya itu tersentak seketika. Penolakan pemberiannya oleh Ibrahim disertai dengan kata-kata yang sinis lagi pedas itu turut meninggalkan kesan yang mendalam kepada dirinya. Dengan peristiwa tersebut orang kaya itu bersyukur kepada Allah karena pertemuan dengan Ibrahim telah membuat dirinya sadar akan tipu daya dunia ini.
Baginda Rasulullah saw pernah memberikan nasihat kepada Abu Dzar al. “Ya Abu Dzar, merasa cukuplah dengan kekayaan Allah, niscaya Allah akan menjadikanmu berkecukupan. Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Siapa yang puas dengan apa yang dianugerahkan Allah, dialah manusia yang paling kaya.”

Dalam kesempatan berbeda, Rasulullah bersabda, “ Yang dinamakan kaya bukanlah dengan banyak harta benda, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Muslim)

Maksud dari kekayaan jiwa ini, dijelaskan oleh Imam Al Manawi adalah merasa tidak membutuhkan jatah rizkinya, menerimanya dengan lapang dada, dan ridha dengannya, tanpa memburu dan memintanya dengan menekan. Sebab, tertanam keyakinan bahwa Allah telah mengatur rezekinya sehingga tidak akan tertukar dengan orang lain. Ia lebih menyibukkan dirinya dengan mendekatkan diri pada Allah. Wallahu alam. (Disadur dari Mutiara Hikmah Pikiran Rakyat Bandung)***

Tangisan Rasulullah Mengguncang Arasy



Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah,
beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya
Karim!”
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu
berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah
SAW yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.
Orang itu Ialu berkata, “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab Badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya, “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Badwi?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi
bagaimana kau beriman kepadanya?”
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah
melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu
dengannya,” kata orang Arab tersebut.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya, “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah
Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!”
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk
mencium kedua kaki Rasulullah SAW
Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya, “Wahal saudaraku! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita,”.
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya
Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda, “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang
Arab Badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah
bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka
hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu.
‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan
kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa besar
kedermawanannya!’
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis
mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh
membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda,
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis
karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Source : Himpunan kisah-kisah teladan
Shared By Kisah Penuh Hikmah

Zuhudnya Sa’id bin Amir



Umar bin Khaththab ra, mengangkat Sa’id bin Amir bin Judzaim al-Jumahi ra sebagai pemimpin untuk wilayah Syam, Syiria. Sa’id pun berangkat bersama dengan budak wanita Quraisy yang berwajah elok. Pada awalnya lancar-lancar saja, sampai Sa’id tertimpa kesulitan hidup yang amat sangat.
Saat Umar ra mendengar berita tersebut, beliau mengirimkan kepada Sa’id uang sebesar seribu dinar. Dituturkan: Sa’id mendatangi istrinya dan berkata: “Umar telah mengirimkan kepada kita sejumlah uang, seperti yang engkau lihat sendiri.”
Melihat sejumlah uang tersebut, istrinya berkata: “Lebih baik engkau belanjakan untuk kami bahan makanan dan engkau simpan”. Sa’id berkata pada istrinya, “Maukah aku tunjukkan yang lebih baik dari hal itu? Kita akan berikan uang ini kepada seseorang yang akan memutar uang ini. Kita akan makan dari hasil keuntungannya dan akan mendapatkan jaminan dari hal itu.”
Mendengar usul yang sangat menarik ini, si istri langsung menimpali, “Kalau begitu baiklah”. Uang itu oleh Sa’id dibelikan kulit, bahan makanan, dua ekor unta dan dua orang budak. Semua itu lalu diberikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada mulanya semua berlangsung lancar, sampai pada suatu hari istrinya berkata: “Bahan makanan sudah habis, lebih baik engkau datangi orang yang memutar uang kita, dan ambil keuntungannya untuk engkau belanjakan bahan makanan untuk kami.”
Mendengar keluhan istrinya ini Sa’id hanya terdiam. Istrinya kembali mengulang ucapannya tadi, namun Sa’id tidak bereaksi, apapun dan kemudian keluar dari rumah. Ia kembali ke rumah di waktu malam. Salah seorang anggota keluarga Sa’id berkata kepada istri Sa’id: “Apa yang telah engkau lakukan? Sesungguhnya engkau telah dicukupi kebutuhannya, lagi pula harta yang diberikan Umar itu sudah di sedekahkan.” Mendengar penuturan ini istri Sa’id menangis.
Pada suatu hari Sa’id kembali ke rumah menjumpai istrinya dan berkata: “Tenanglah, sesungguhnya harta yang telah diberi Umar adalah untukku, dan aku telah bagi-bagikan tidak lama setelah itu, karena aku lebih menyukai mereka (fakir, miskin dan orang-orang yang membutuhkan) dari pada diriku. Aku sudah mendapatkan dunia dan seisinya. Seandainya salah satu kebaikan (maksudnya seorang bidadari) dari berbagai kebaikan yang ada itu turun dari langit ke dunia, maka sinarnya akan meliputi seluruh penduduk bumi dan akan mengalahkan sinar matahari dan rembulan, selendangnya jauh lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Akan tetapi engkau, bagiku jauh lebih utama dari pada mereka (maksudnya bidadari-bidadari tersebut). Mendengar ucapan Sa’id di atas, akhirnya sang istri setuju dan rela dengan apa yang dilakukan Sa’id.
Keteladanan Sa’id bukan hanya dalam kisah di atas saja, Abdurrahman bin Sabith al-Jumahi menuturkan, “Apabila Sa’id mendapatkan bagian harta dari Baitul Mal, maka ia belanjakan bahan makanan untuk keluarganya, dan sisanya disedekahkan. Sampai-sampai istrinya bertanya, kemana uang lebihnya yang telah diberikan kepadamu?” Sa’id menjawab, “Telah aku pinjamkan.”
Orang-orang pernah mendatangi Sa’id dan menegurnya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak, begitu pula kerabatmu, mereka semua mempunyai hak”. Atas teguran ini Sa’id menjawab, “Aku tidak pernah menuntut dan mencari kerelaan seseorang di dunia, melainkan untuk mendapatkan bidadari yang tidak pernah tersentuh mata manusia, yang jika ia turun ke bumi, maka sinarnya akan membakar bumi dan matahari. Namun aku juga tidak mau meninggalkan kewajiban terhadap keluargaku….”. Subhanallah. Sahabat, mari kita teladani kezuhudan Zaid.***